Bisa Juga Baca Di E-mail Sahabat

Sabtu, 28 Januari 2012

Makalah ilmu Kalam/Tauhid

A.    Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
Makna tauhid asma’ wa sifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya saw.  Menurut apa yang pantas bagi Allah swt. Tanpa ta'wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah swt.
       
” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Asy-Syura: 11).
Allah menafikan jika ada sesuatu yang sesuatu menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia Adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya dan dengan nama dan sifat  yang disampaikan oleh Rasul-Nya. Maka barang siapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, atau mentakwilkan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Allah berfirman :
        
“siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

B.    Metode Beriman Kepada Asma’ Wa Shifat
Metode iman kepada nama dan sifat-sifat Allah swt ada dua ; Pertama, Itsbat, kedua, Nafyu. Itsbat maksudnya mengimani bahwa Allah swt memiliki al-asma’ wa shifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaa-Nya. Sedangkan Nafyu maksudnya menafikan adanya makhluk yang menyerupai Allah swt, atau menafikan adanya anak dan orangtua dari Allah swt dan lain-lain.
    Sehubungan dengan al-asma’ wa shifat ini ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan secara lebih khusus :

1.    Janganlah memberi nama Allah swt dengan nama-nama yang tidak disebutkan didalam al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman :

                
” Hanya milik Allah al-asma’ al-husna, maka beermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asma’ al-husna itu da tinggalkanlah oran-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam ( menyebut ) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap aoa yang telah mereka kerjakan.” ( Al-A’raf 7: 180).
2.    Jangan menyamakan (tamtsil), Zat Allah swt, sifat-sifat dan af’al (pebuatan)-Nya dengan makhluk manapun. Allah berfirman :
                •  
” Katakanlah ; “ Dia Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya. (Al-Ikhlas 112: 1-4)
    Jika ada kesamaan nama dan sifat antara Allah swt dan makhluk-Nya, misalnya Allah Maha mendengar, manusia juga bisa mendengar, Allah berbicara dengan nabi Musa, manusia juga berbicara, dan lain sebagainya, maka persamaan tersebut hanyalah persamaan nama saja, bukan persamaan secara hakiki. Nama dan sifat Allah swt sesuai dengan Zat dan Kemahaan-Nya, nama dan sifat manusia atau makhluk lain sesuai dengan kemakhlukannya. Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk men-takwil-kan sifat-sifat Allah tertentu karena takut tasybih atau tamtsil, dan lebih dari itu tentu tidak dibenarkan menolak sama sekali nama atau sifat Allah swt yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya karena takut tasybih, tamtsil dan tidak mau takwil atau karena tidak mau mengurangi kemutlakan Allah swt karena nama dan sifat-sifat itu. Sebab menolak salah satu nama atau sifat Allah berarti sama saja dengan mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

3.    Mengimani al-asma’ wa sifat bagi Allah swt harus apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakan “ bagaimana” nya ( kaifiyat). Misalnya allah mengatakan :

       
“… kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arasy…” (Ar-Radu 13: 2)

Kita harus mengimani bahwa Allah swt bersemayam diatas ‘Arasy, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya Allah bersemayam, berapa luasnya ‘Arasy, mana yang lebih besar Allah atau ‘Arasy ? dimanakah ‘Arasy itu ? dan pertanyaan- pertanyaan lainya yang tidak mungkin diajukan. Selain tidak akan bisa dijawab karena itu masalah ghaib, juga tidak ada gunanya, bahkan menghabiskan waktu saja.

4.    Dalam suatu hadis disebutkan Allah mempunyai 99 nama yang artinya :

“sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali masuk surga. Dia itu tunggal dan menyukai yang tunggal.” (HR. Bukhari Muslim)

Kata “menghafal” dalam hadits di atas janganlah diartikan secara sempit dengan sekadar menghafal di lisan, tapi lebih dari itu mengimani dan mengamalkannya dalam kehidupan.

C.    Manhaj Salaf Dalam Hal Asma’ Wa Shifat

Yaitu mengimani dan menetapkan sebagaimana Ia datang tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil, dan hal itu termasuk pengertia beeriman kepada Allah.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “ kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya atau yang disifati oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh as-Sabiqu al-Awwalun ( para generasi pertama), serta tidak melampaui al-Qur’an dan al-Hadits.
Mazhab salaf adalah antara ta’thil, tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah swt dengan makhlukn-Nya. Sebagaimana mereka tidak menyerupaka Dzat-Nya dengan dzar yang ada pada makhluk-Nya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, atau apa yagn disifatkan oleh Rasul-Nya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan al-asma’ wa sifat yang ulya’, dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari al-asma’ dan ayat-ayat-Nya”.

D.    Kandungan Asma’ Husna Allah
Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama yang tidak mengandung sifat dan makna, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka nama ar-Rahman  dan ar-Rahim menunjukkan sifat Rahmah; as-Sami’ dan al-Bashir menunjukkan sifat mendengar dan melihat begitulah seterusnya setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan sifat-sifat-Nya.
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti al-‘Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, al-Qadir menunjukkan Dzat dan qudrah, ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.”
Ibnul Qayyim berkata, “ Nama-nama Allah swt menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, karena ia diambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam ( balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “ Ya-Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri saya sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah al-Muntaqim (Maha membalas dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya Engkau adalah adh-Dharr (yang memberi mudharat) dan al-Mani’ (yang menolak)…” dan yang semacamnya.

E.    Studi Tentang Sebagian Sifat-Sifat Allah
Sifat-sifat Allah teerbagi kepada dua bagian. Bagian pertama, adalah sifat Dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini tidak berpisah dari Dzat-Nya. Seperti; al-Ilmu, al-Qudrat, al-bashar, dan lain sebagainya.
Bagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Yaitu sifat yang dia buat jika berkehendak. Seperti, bersemayam diatas ‘Arasy, turun kelangit dunia ketika tinggal sepertiga akhir malam, dan datang pada hari jum’at.

F.    Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya

1.    Pendapat mereka
Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah menyalahi Ahlus-Sunnah wal Jama’ah dalam hal sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta’wil-kan nash-nash yang menetapkanya dengan ta’wil  yang batil. Syubhat mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lain-Nya). Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaan-Nya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan menurut mereka atau harus di-ta’wil-kan dari zhahirnya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-maknanya kepada Allah swt. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah Syubhat mereka terhadap nash-nash yang ada.

2.    Bantahan terhadap mereka
a.    Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang  mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah.
Allah berfirman :

     
 “ Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (Al-A’raf: 3)
Maka barang siapa yang menafikanya berarti ia telah menafikan apa yng telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, dan berarti sama saja menentang ke dua-Nya.
b.Sesungguhnya kaum salaf  dari sahabat, tabi’in, dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuaya menetapkan al-asma’ wa shifat Allah ini, dan mereka tidak berselisih sedikit pun didalamnya.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “ manusia banyak berselisih pendapat dalam hal tentang hukum, dan mereka tidak begitu mempermasalahkan ayat atau hadits-hadits yang bersangkutan dengan sifat-sifat, sekalipun itu hanya sekali. Bahkan mereka sepakat untuk menetapkannya dan membiarkan apa adanya disertai dengan pemahaman makna-makna lafadz-nya bahwa hal tersebut telah dijelaskan dengan tuntas. Maka Allah dan Rasul-Nya menjelaska dengan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang  bisa menimpa ahlul ilmi  .
Sedangkan Rasulullah saw telah bersabda, “Kewajiban kalian adalah mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasydin”.
Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.

c. Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta’wil-nya (penyerahan makna kepada Allah), tentu Allah dan Rasul-Nya telah berbicara kepada kita dengan kitab dan ucapan yang kita  tidak  paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah maha suci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam Rasul-Nya adlah ucapan yang jelas, mudah dimengerti dan berisi petunjuk.
d. Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tiada dzat tanpa sifat, dan setiap wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat dan nama. Sesungguhya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma’dum (sesuatu yang tidak ada).
e. Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan kepantasanNya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.
f. SebagaimanaAllah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.
g.Sesungguhnya menetapakan sifat-sifat yang ada adalah kesempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Maka wajiblah penetapn sifat-sifat itu.



Kesimpulan
Al-Asma’ artinya nama-nama, sedangkan as-Shifat artinya sifat-sifat. Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Metode iman kepada Al-Asma’ wa Shifat ada dua; yang pertama, itsbat,sedangkan yang kedua ialah Nafyu. Itsbat mengimani bahwa Allah memiliki Al-Asma’ wa Shifat. Sedangkan Nafyu menafikan atau menolak segala Al-Asma’ wa Shifat yang menunjukkan ketidak sempurnaan-Nya.

Tidak ada komentar: